Monday, November 18, 2013
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
A. Pengertian Contextual Teaching and Learning
Menurut Elaine B. Johnson (2002) dalam Chaedar Alwasilah (2007: 65) Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sebuah sistem yang menyeluruh. CTL terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan. Jika bagian-bagian ini terjalin satu sama lain, maka akan dihasilkan pengaruh yang melebihi hasil yang diberikan bagian-bagiannya secara terpisah. Sedangkan menurut Nurhadi (2003: 1) pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Selanjutnya tentang pendekatan ini, Nurhadi (2003: 1) menyatakan bahwa siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa mereka pelajari berguna bagi kehidupannya nanti. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning, peran guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Artinya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan keterampilan yang baru bagi siswa. Pengetahuan dan keterampilan diperoleh dengan ‘menemukan sendiri’.
Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan sebuah strategi pembelajaran seperti halnya strategi pembelajaran yang lain. Pendekatan kontekstual ini dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Dengan pendekatan kontekstual, siswa melakukan proses belajar dan mengembangkan kompetensinya.
B. Karakteristik Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
Menurut Corebima (2002) Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) memiliki tujuh komponen utama yaitu: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection) dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment). Suatu kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya.
1) Konstruktivisme (Constructivism)
Constructivism (konstruktivisme) merupakan landasan berpikir pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Nurhadi, 2002).
Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.
Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses ‘mengkonstruksi’ bukan ‘menerima’ pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran.
Zahorik (1995) menuturkan, ada 5 elemen yang harus diperhatikan dalam praktek pembelajaran, yaitu: (1) pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge); (2) pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowlegde); dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memeperhatikan detailnya; (3) pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) yaitu dengan cara menyusun: (a) konsep sementara; (b) melakukan sharing pada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi) dan atas dasar tanggapan itu (c) konsep itu direvisi dan dikembangkan; (4) mempraktekan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge); dan (5) melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.
Tugas utama guru adalah menciptakan suasana didalam proses pembelajaran agar terjadi interaksi belajar mengajar yang dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Untuk itu seyogyanya guru memiliki kemampuan untuk melakukan interaksi belajar yang baik.
2) Menemukan (Inquiry)
Dalam Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya.
Menurut Suchman (Dahlan 1990: 35) bahwa inkuiri memberikan perhatian dalam mendorong siswa menyelidiki secara independen, dalam suatu cara yang teratur. Melalui inkuiri siswa bertanya memperoleh dan mengolah data secara logis sehingga mereka dapat mengembangkan strategi intelektual secara umum yang mereka gunakan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu.
Dalam teknik inkuiri untuk mengajarkan sains, Fish & Goldmark (dalam Romey 1968) memperkenalkan 3 interpretasi tentang metode inkuiri, yakni: self directed, inquiry into science teaching, science teaching as method selection. Lebih lanjut disebutkan, dalam inkuiri diperlukan kemampuan bertanya, memilih alat dan metode, dan mencapai hasil yang diharapkan sebagai komponennya. Untuk masing-masing interpretasi terdapat perbedaan penekanan dalam komponen-komponennya.
Ditinjau dari tingkat kompleksitasnya (Trowbridge&Bybee, 1990) membedakan pembelajaran dengan inkuiri menjadi 3 tingkatan. Tingkatan pertama adalah pembelajaran penemuan (discovery); tingkatan kedua adalah pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry); dan tingkatan paling kompleks adalah inkuiri terbuka atau bebas (open inquiry). Dalam pembelajaran penemuan siswa diajak melakukan pencarian konsep melalui kegiatan yang melibatkan pertanyaan, inferensi, prediksi, berkomunikasi, interpretasi dan menyimpulkan. Dalam pembelajaran inkuiri terbimbing, masalah dimunculkan oleh pembimbing atau guru. Sedangkan dalam pembelajaran inkuiri terbuka atau bebas, masalah berasal dari siswa dengan bantuan arahan dari guru sampai siswa menemukan apa yang dipertanyakan dan mungkin berakhir dengan pertanyaan atau masalah baru yang perlu ditindaklanjuti pada kegiatan pembelajaran berikutnya. Kesamaan dari ketiga pembelajaran tersebut adalah ketiganya melibatkan keterampilan proses sains dan atau kemampuan dasar bekerja ilmiah.
Inkuiri merupakan seni bertanya IPA tentang gejala alam dan menemukan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut (Hebrank, 2000). Inkuiri melibatkan observasi, melakukan pengukuran, berhipotesis, interpretasi, membangun teori, merencanakan penyelidikan, bereksperimen dan refleksi. Inkuiri ilmiah merujuk pada berbagai strategi saintis untuk mempelajari gejala alam dan mencoba menjelaskan berdasarkan bukti yang diperoleh dari observasi sebagaimana juga dari aktivitas/kegiatan siswa. Semua itu mengembangkan pengetahuan dan pemahaman tentang gagasan ilmiah dalam mempelajari gejala alam.
Inkuiri dimulai ketika siswa mengalami kebingungan tentang situasi atau fenomena, ketika merencanakan dan melaksankan eksperimen untuk menguji hipotesis. Proses tersebut melibatkan seluruh aktivitas saintis untuk memperoleh informasi seperti berhipotesis, meramalkan, membaca, merencanakan dan melaksanakan eksperimen serta bekerjasama dengan saintis lainnya. Diskusi esensial dalam inkuiri, eksplorasi, kegiatan pendukung dan ekspresi konsep, selain koleksi dan analisis datau ntuk menarik kesimpulan berdasarkan fakta yang relevan. Informasi dipelajari melalui penyelidikan yang memungkinkan siswa mengkomunikasikan data dan memberikan alasannya.
Inkuiri berlansung ketika siswa menemukan jawaban terhadap pertanyaan mereka. Oleh karena siswa tidak mengetahui segala sesuatu, mereka mencoba untuk menemukan hubungan berdasarkan inkuiri. Memang diperlukan waktu bagi guru untuk memikirkan apa yang dilakukan oleh siswa dan memahami apa yang dilakukan. Belajar menjadi bermakna bagi siswa apabila mereka mendapat kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, melaksanakan penyelidikan, mengumpulkan data, membuat kesimpulan dan berdiskusi. Dengan kata lain siswa terlibat secara langsung dalam pembelajaran aktif dan berpikir tingkat tinggi, yang pada gilirannya akan membimbing/mengarahkan mereka pada pembelajaran berbasis inkuiri ilmiah.
Bruner mengemukakan bahwa penggunaan pendekatan inkuiri menghasilkan aspek-aspek yang baik. Pertama, meningkatkan potensi intelektual siswa, karena mereka mendapat kesempatan untuk mencari dan menemukan keteraturan dan aspek lainnya melalui observasi dan eksperimen mereka sendiri. Kedua siswa memperoleh keputusan intektual, karena mereka berhasil dalam penyelidikan mereka. Ketiga, seorang siswa dapat belajar bagaimana melakukan proses penemuan. Keempat, belajar melalui inkuiri mempengaruhi siswa mengingat lebih lama.
Langkah-langkah kegiatan menemukan (inquiri) menurut Nurhadi (2003: 13) sebagai berikut: (1) merumuskan masalah; (2) mengamati atau melakukan observasi; (3) menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya; (4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audien yang lain.
3) Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu diawali dari bertanya. Questioning merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
Kegiatan bertanya berguna dalam pembelajaran yang produktif, seperti dikemukakan Nurhadi (2003: 14) berikut ini: (1) menggali informasi, baik administrasi maupun akademis; (2) mengecek pemahaman siswa; (3) membangkitkan respon kepada siswa; mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa; (4) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa; (5) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru; (6) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa; (7) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
4) Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Pengembangan pembelajaran dalam kelompok dapat menumbuhkan suasana memelihara disiplin diri, dan kesepakatan berperilaku. Melalui kegiatan kelompok terjadi kerjasama antar siswa, juga dengan guru yang bersifat terbuka. Menurut Hakim (2000: 43) belajar kelompok dapat dijadikan arena persaingan sehat, dan dapat pula meningkatkan motivasi belajar para anggota kelompok.
Dalam Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), guru melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, baik anggotanya dan jumlahnya. Menurut Slavin (1995: 4-5) kelompok yang efektif terdiri dari empat sampai enam orang, dengan struktur kelompok yang heterogen.
Masyarakat-belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Siswa yang terlibat dalam kegiatan komunitas belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus meminta informasi juga yang diperlukan teman belajarnya. Kegiatan belajar ini dapat terjadi apabila tidak ada pihak yang dominan dalam berkontribusi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu, semua pihak mau saling mendengarkan, pembelajaran dengan teknik kominitas belajar ini sangat membantu pembelajaran di kelas.
5) Pemodelan (Modeling)
Komponen dalam Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) selanjutnya adalah pemodelan. Maksudnya, dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu dapat berupa cara mengoperasikan sesuatu, atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, guru memberi model tentang ‘bagaimana cara belajar’
Dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model. Guru dapat merancang model dengan melibatkan siswa. Siswa yang memiliki kompetensi, prestasi dan bakat dapat ditunjuk untuk dijadikan model. Model juga dapat didatangkan dari luar lingkungan sekolah.
6) Refleksi (Reflection)
Refleksi juga bagian penting dalam pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu untuk mengevaluasi atau intropeksi apakah selama mengikuti proses pembelajaran, siswa dapat mengikuti dengan baik, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Realisasinya pada akhir pembelajaran, guru meminta siswa melakukan refleksi dapat berupa: pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan atau jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu, diskusi, hasil karya.
Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses. Pengetahuan dimiliki siswa diperluas melalui konteks pembelajaran, yang kemudian diperluas sedikit-demi sedikit. Guru membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu, siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya. Konsep inilah yang oleh Ausubel (1968) disebut meaningfull learning.
7) Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)
Assessment merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kendala belajar.
Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka assessment tidak dilakukan di akhir periode pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar, tetapi dilakukan bersama dengan secara terintegrasi dari kegiatan pembelajaran.
Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian (assessment) bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar siswa. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn), bukan ditekankan pada perolehannya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran. Karena assessment menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melulu hasil.
Teori Belajar yang Mendasari Contextual Teaching and Learning (CTL)
Menurut Ausubel (Dahar, 1996: 112) bahan pembelajaran yang dipelajari haruslah “bermakna” (meaningfull). Belajar bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-genaralisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh siswa. Ausubel (Suparno, 1997: 54) mengatakan belajar bermakna adalah suatu proses belajar dimana informasi baru dihubungkan sengan struktur pengetahuan yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Maksudnya bahan pelajaran itu harus cocok dengan kemampuan siswa dan harus relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, pelajaran harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki oleh para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap olehnya.
Menurut Soekamto (1994) mendifinisikan belajar sebagai setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman. Definisi ini mencakup tiga unsur, yaitu: (1) belajar adalah perubahan tingkah laku, (2) perubahan tersebut terjadi karena latihan atau pengalaman, (3) sebelum dikatakan belajar, perubahan tersebut harus relatif permanen dan tetap ada untuk waktu yang cukup lama.
Dipandang dari segi pendidikan, apabila seseorang telah belajar sesuatu, maka ia akan berubah kesiapannya dalam menghadapi lingkungannya. Belajar adalah aktif dan merupakan fungsi dari situasi di sekitar individu yang belajar serta diarahkan oleh tujuan yang terdiri atas tingkah laku, yang menimbulkan adanya pengalaman-pengalaman dan keinginan untuk memahami sesuatu. Apabila kita berbicara tentang belajar, maka sebenarnya kita berbicara bagaimana tingkah laku seseorang berubah sebagai akibat dari pengalaman (Soekamto 1994).
Dahar (1996) mengemukakan prinsip-prinsip belajar adalah: (1) apapun yang dipelajari siswa, dialah yang harus belajar, bukan orang lain. Untuk itu siswalah yang harus bertindak secara aktif; (2) penguasaan yang sempurna dari setiap langkah yang dilakukan siswa akan membuat proses pembelajaran lebih bermakna; (3) siswa akan lebih meningkat motivasinya untuk belajar apabila ia diberi tanggung jawab serta kepercayaan penuh belajarnya. Selain itu juga menyarankan agar siswa hendaknya belajar melalui berpartisipasi secara aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, agar mereka dianjurkan untuk memperoleh pengalaman, dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengizinkan mereka untuk menemukan prinsip-prinsip itu sendiri.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment